HrLutfiSirah Nabawiyah ibnu Hisyam - 2010/01/10 18:34 Assalamu^alakum wr wb ya habibana Hati ini rasanya teramat senang mendapat info bahwa habib sudah Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap Kajiansiroh sahabat setiap Selasa setelah maghrib Perbedaan sirah nabawiyah dengan sejarah. Sirah Nabawiyah dan sejarah memiliki arti yang serupa namun sejarah bersifat lebih umum dan sirah lebih khusus, dilihat dari sumber, perincian dan tujuannya, seperti:. Sirah berasal dari kata saraha berarti perjalanan hidup sedangkan sejarah berasal dari kata syajarah (syajaratun) bermaksud pohon. Tujuanmengkaji Sirah Nabawiyah bukan sekedar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa sejarah yang mengungkapkan kisah-kisah dan kasus yang menarik. Karena itu, tidak sepatutnya kita menganggap kajian fikih Sirah Nabawiyah termasuk sejarah, sebagaimana kajian tentang sejarah hidup salah seorang Khalifah, atau sesuatu periode sejarah yang telah silam. SIRAHNABAWIYAH P E N D A H U L U A N Perbedaan selama bukan mengenai hal-hal yang pokok dan masih mengikuti apa yang pernah dicontohkan Rasulullah tetap dibenarkan. Kita tidak boleh saling merasa bahwa kitalah yang benar dan pihak lain salah. Mereka tidak peduli apakah pertanyaan dan permintaan mereka itu terpenuhi atau tidak. Yang Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd. Penuturan Rasulullah 🌴🌴🌴🐫🐫🐫🌴🌴🌴 Sahabat fillah, Didalam siroh Rasulullah diceritakan sewaktu Muhammad diangkat menjadi Rasulullah, ia diminta para sahabat untuk menceritakan tentang dirinya. Inilah yang Rasulullah katakan tentang diri beliau. "Ketika ibuku mengandungku, ia melihat sinar keluar dari perutnya. Karena sinar tersebut, istana-istana di Syam bercahaya. "Aku disusui di Bani Sa'ad bin Bakr. Ketika aku bersama saudaraku di belakang rumah sedang menggembalakan kambing, tiba-tiba dua orang berpakaian putih datang kepadaku dengan membawa baskom emas yang penuh berisi salju. "Kedua orang tersebut mengambilku, lalu membelah dadaku, mengeluarkan jantungku, membelahnya, mengeluarkan gumpalan hitam dari jantungku, dan membuangnya. Setelah itu, keduanya mencuci jantungku dan dadaku dengan salju yang telah dibersihkan. Salah seorang dari keduanya berkata kepada sahabat satunya, 'Timbanglah dia dengan sepuluh orang dari umatnya.' "Dia menimbangku dengan 10 orang umatku, ternyata aku lebih berat daripada mereka. "Orang pertama berkata, 'Timbanglah dia dengan 100 orang dari umatnya.' "Orang kedua itu menimbangku dengan 100 orang dari umatku, ternyata aku lebih berat daripada mereka. Orang pertama berkata lagi, 'Timbanglah dia dengan 1000 orang dari umatnya.' Orang kedua menimbangku dengan 1000 orang dari umatku, ternyata aku lebih berat daripada mereka.' "Orang pertama berkata, 'Biarkan dia. Demi Allah, seandainya engkau menimbangnya dengan seluruh umatnya, ia lebih berat daripada mereka'." 🌴🌴🌴🐫🐫🐫🌴🌴🌴 📝Catatan Tambahan📝 Tujuan peristiwa ini adalah mempersiapkan diri Muhammad untuk mendapatkan pemeliharaan dan wahyu agar manusia lebih mudah mengimami Rasulullah dan membenarkan risalahnya. 1. Jelaskan kronologis penaklukan kota Mekah oleh Nabi Saw dan kaum Muslimin! Orang musyrik Makkah mengkhianati perjanjian hudaibiyah dengan mendukung bani bakar memerangi bani khuza’ah. Padahal mereka semua terikat dalam perjanjian. Ini terjadi pada bulan sya’ban 8H. Informasi ini dampai kepada Rasulullah. Abu Sufyan pun berangkat ke Madinah untuk memperpanjang perjainjian, namun tidak diterima Rasulullah. Rasulullah kemudian mengundang seluruh pasukan menjadi tentara. Mereka berangkat pada tanggal 10 Ramadhan 8H, tiba di Makkah seminggu kemudian. Hatib bin Abi Balta’ah khilaf mengirimkan informasi tapi ketahuan. Rasulullah dan kaum muslimin tiba di Marr al-Zahran pada waktu isya’ dan memerintahkan kaum muslimin untuk menyalakan api sehingga tampak dari Makkah. Saat pasukan bergerak menuju Makkah di pagi hari, Abu Sufyan diajak Al-Abbas melihat dari ketinggian, sehingga ia merasa takjub. Setelah itu ia Kembali ke Makkah, dan kota itu takluk tanpa perlawanan. Rasulullah masuk ke kota Makkah, lalu masuk ke dalam ka’bah dan membersihkannya dari berhala. Kunci ka’bah tetap di tangan utsman bin talhah dan keturunannya. Bilal diperintahkan adzan di atas ka’bah. Setelah itu Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menghancurkan berhala-berhala di luar Makkah. 2. Salah satu peristiwa penting pada masa Nabi SAW adalah amul huzni. Jelaskan apa yang dimaksud dengan amul huzni! Amul Huzni yakni tahun kesedihan. disebut demikian karena ini merupakan tahun meninggalnya paman Rasulullah yakni Abu Thalib, dan istri Rasulullah yakni Ibunda Khadijah. Dua orang yang sangat dicintai Rasulullah, dan paling banyak membantu Rasulullah. 3. Sebutkan apa saja yang telah dilakukan Nabi Saw setelah hijrah ke Madinah! Membangun masjid sebagai pusat peradaban. lokasi pembangunan yakni di lapangan penjemuran kurma milik dua orang anak yatim yang kemudian dibeli oleh Rasulullah. masjid ini, tidak hanya sebagai masjid saja namun juga sebagai tempat pembelajaran, balai pertemuan, kantor pemerintahan dan untuk menampung fakir miskin. Muakhkha’ atau mempersaudarakan antara kaum muhajirin dan anshar. Rasulullah mempersaudarakan keduanya agar dapat saling membantu dan memberi manfaat. Rasulullah pun mempersaudarakan satu satu dari mereka agar bisa lebih kaffah dan khusus membantu saudaranya. persaudaraan ini bahkan serasa kaum muhajirin adalah ahli waris dari kaum anshar, tetapi kemudian dibantah dengan aturan bahwa ahli waris haruslah dengan saudara sedarah. Membuat piagam Madinah. Perjanjian Madinah ini merupakan sebuah perjanjian formal antara semua suku dan kaum kaum yang ada di Madinah. Adanya perjanjian itu dalam rangka menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban bagi kaum muslimin, yahudi, Nasrani dan kaum lain yang ada di Madinah. Para ahli sejarah mengatakan bahwa piagam Madinah ini adalah yang termodern di masanya. 4. Terdapat tiga klan besar Yahudi di Madinah, Bani Qainuqa’, Bani Nadhir dan Bani Quraidhah. Jelaskan kronologis terusirnya tiga klan Yahudi tersebut dari Madinah! a. Bani Qinuqa Bani qainuqa sama dengan bani yahudi yang lain, berjanji untuk saling melindungi dan membantu dengan kaum muslimin. Namun mereka telah melakukan hal yang buruk yakni Ketika Rasulullah baru saja pulang dari perang Badar, Syas bin Qais berusaha mengadu domba para pemuda dari Bani Aus dan Khazraj. Peristiwa lain adalah, ada seorang Muslimah yang sedang belanja di pasar bani qainuqa, namun di ganggu orang orang yahudi hingga tersingkap pakaiannya. Melihat itu, ada seorang pemuda muslim yang melihat, lalu memukul orang yahudi tersebut hingga meninggal, pada akhirnya pemuda itu pun di bunuh oleh orang-orang Yahudi yang lain. Hal ini lah yang menjadi puncak permasalahan, hingga akhirnya Rasulullah memutuskan untuk siap berperang. Karena bani qainuqa memiliki distrik tersendiri dan memiliki benteng sehingga tidak dapat diserang, mereka dikepung selama 15 hari. Selama itu mereka tidak keluar, mereka bertahan dan tidak melakukan perlawanan karena sebenarnya mereka penakut. Mereka pun menyerah dan kalah. Akhirnya mereka diusir dari Madinah b. Bani nadhir Bani nadhir ini membangkang. Karena mereka awalnya ada seorang muslim yang khilaf membunuh orang lain, maka harus membayar ziyad. Lalu Rasul datang kepada bani nadhir dan semua orang termasuk yahudi untuk membayar ziyad tersebut. Saat Rasul datang, Rasul diminta menunggu di luar benteng bani nadhir tetapi ternyata mereka tidak membahas masalah ziyad namun berencana membunuh Rasulullah dengan batu yang akan ditimpakan dari atas kepala Rasulullah. Olehkarena itu, Rasulullah meninggalkan tempat itu dan mempersiapkan untuk mengepung bani nadhir. Rasulullah memberi waktu 10 hari untuk mereka meninggalkan Madinah. Setelah di kepung 1-2 minggu, merekapun menyerah dan pergi meninggalkan Madinah. c. Bani Quraidzah Bani quraizhah mengkhianati perjanjian yang telah dibuat dengan Rasulullah, bahkan telah berusaha menikam kaum muslimin saat kaum muslimin menghadapi musuh yang berat. Pengkhianatan inin diprovokatori oleh Huyay bin Akhthab. Olehkarena itu, ditetapkan hukuman dengan pasukan mereka dibunuh, kaum wanita dan anak-anak ditawan. 5. Apa manfaat mempelajari Sirah Nabawiyah bagi anda sebagai mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir IAT? Manfaat mempelajari sirah nabawiyah adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi “Aku memandang bahwa hanya sibuk mempelajari fiqh dan hanya sibuk mempelajari hadits-hadits Nabi ﷺ yaitu yang berkaitan dengan fiqh tidak cukup untuk memperbaiki hati kecuali apabila digabungkan dengan mempelajari raqāiq yang dapat melembutkan hati dan juga mempelajari sejarah para salafush shālih.” Shaidul Khathir hal. 228” Selain dapat membersihkan dan meluruskan hati, dengan mengetahui sirah nabawiyah, itu akan lebih memudahkan kita dalam memahami asbabun nuzul ayat, nasikh Mansukh. Pun diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas ra memiliki waktu khusus untuk mengajarkan sirah, padahal beliau adalah seorang mufassir. Ini menunjukkan betapa pentingnya mempelajari sirah bagi kita yang bahkan tingkatannya jauh di bandingkan Ibnu Abbas ra. Ada beberapa pelajaran penting dari hijrah nabi yang bisa kita ambil. Pertama Peristiwa hijrah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merupakan peristiwa terbesar dalam sejarah Islam, bahkan pengkaji sirah nabawiyah mengaitkan dengan peristiwa kenabian, di awal kenabiannya ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersama Khadijah radhiyallahu anha menghadap Waraqah bin Naufal, Waraqah memberitahukannya, “Sekiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Akankah mereka mengusirku?” “Ya”, jawab Waraqah. “Tidak ada seorang pun yang datang membawa ajaran yang serupa dengan yang kamu bawa, melainkan akan dimusuhi dianiaya.” HR. Bukhari, no. 3 Kedua Perintah hijrah ditinjau dari sisi waktunya maupun tempatnya merupakan wahyu dari Allah. Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan, “Abu Musa berkata meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam , dia bersabda, Saya melihat dalam mimpi bahwa saya berhijrah dari Makkah ke negeri yang dipenuhi pohon kurma, saya menduga ke Yamamah atau Hijr, ternyata ke Madinah dulu Yatsrib.” Fath Al-Bari, 7231 Ketika itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberitahukan Abu Bakar radhiyallahu anhu, “Saya telah diizinkan untuk berhijrah.” Abu Bakar bertanya, “Saya menemanimu, wahai Rasulullah?” HR. Bukhari, no. 3905 Bahkan berita hijrah ini pun sudah diketahui oleh kaum Nashrani seperti yang dikisahkan dalam perjalanan Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu yang melakukan perjalanan dari Persia lalu ke Syam, lalu ke Mosul, lalu ke Nashibin, lalu ke Amuriyyah, lalu ke kota Madinah. Dari seorang pemuka Nashrani di Amuriyyah memberitahukan kepada Salman sebagaimana dalam potongan hadits dari kisah panjang tersebut berikut ini. قَالَ ثُمَّ نَزَلَ بِهِ أَمْرُ اللَّهِ فَلَمَّا حَضَرَ قُلْتُ لَهُ يَا فُلانُ ! إِنِّي كُنْتُ مَعَ فُلانٍ ، فَأَوْصَى بِي فُلانٌ إِلَى فُلانٍ ، وَأَوْصَى بِي فُلانٌ إِلَى فُلانٍ ، ثُمَّ أَوْصَى بِي فُلَانٌ إِلَيْكَ ، فَإِلَى مَنْ تُوصِي بِي وَمَا تَأْمُرُنِي ؟ قَالَ أَيْ بُنَيَّ ! وَاللَّهِ مَا أَعْلَمُهُ أَصْبَحَ عَلَى مَا كُنَّا عَلَيْهِ أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ آمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَهُ ، وَلَكِنَّهُ قَدْ أَظَلَّكَ زَمَانُ نَبِيٍّ ، هُوَ مَبْعُوثٌ بِدِينِ إِبْرَاهِيمَ ، يَخْرُجُ بِأَرْضِ الْعَرَبِ مُهَاجِرًا إِلَى أَرْضٍ بَيْنَ حَرَّتَيْنِ الحرة الأرض ذات الحجارة السود ، بَيْنَهُمَا نَخْلٌ ، بِهِ عَلامَاتٌ لا تَخْفَى يَأْكُلُ الْهَدِيَّةَ وَلا يَأْكُلُ الصَّدَقَةَ ، بَيْنَ كَتِفَيْهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ ، فَإِنْ استَطَعْتَ أَنْ تَلْحَقَ بِتِلْكَ الْبِلادِ فَافْعَلْ “Orang itu berkata, Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seorangpun yang akan aku perintahkan kamu untuk mendatanginya. Akan tetapi telah hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran Nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu terdapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya terdapat tanda khatam nubuwwah tanda kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!’.” HR. Ahmad, 5441. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan. Ketiga Hijrah ke Madinah bukanlah rekreasi yang diinginkan orang Muhajirin dan bukan pula karena Makkah merupakan negeri berpenyakit, sehingga mereka gembira dengan berita wajibnya hijrah dari Makkah. Akan tetapi, itu adalah satu perintah yang dibebankan yang berkaitang dengan akidah yang mereka yakini kebenarannya, dan berkaitan dengan karakter risalah Islam yang harus disampaikan kepada orang lain. Keempat Bergegasnya para sahabat Rasulullah radhiyallahu anhum melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap hijrah ke Madinah dengan meninggalkan anak, harta, dan tanah air. Tidak ada yang tertinggal di Makkah kecuali orang yang dikehendaki Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk tinggal, atau memang bertahan atau memiliki uzur lainnuya, dan jumlah mereka sangat sedikit. Hal ini mengingatkan kita untuk melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan berhati-hati dari mengingkarinya berdasarkan firman Allah Ta’ala, لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian yang lain. Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung kepada kawannya, maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” QS. An-Nuur 63. Kelima Peristiwa hijrah mengandung kemuliaan yang istimewa bagi Abu Bakar radhiyallahu anhu, dia yang dipilih oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai kawan dalam hijrah, Abu Bakar menyerahkan anaknya, pembantunya, dan hartanya untuk keperluan hijrah, cukuplah firman Allah yang membenarkannya, ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا “Sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”.” QS. At-Taubah 40 Ibnu Taimiyyah dalam Minhajus Sunnah 8419 berkata, “Siapa yang mengamati mencermati ini pasti menemukan kelebihan-kelebihan Abu Bakar Ash-Shiddiq atas sahabat-sahabat yang lain yang disebutkan dalam banyak hadits yang sahih.” Hadits ini pun jadi bukti keutamaan Abu Bakar dari sisi amalan. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat, “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?” Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?” Maka Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Maka Abu Bakar mengatakan, “Saya.” Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali mengatakan, “Saya.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.” HR. Muslim no. 1028. Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ’anhu, “Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam semata-mata karena banyaknya mengerjakan puasa atau shalat, akan tetapi karena iman yang bersemayam di dalam hatinya.” Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut, Ibnu Ulayyah mengatakan, “Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya adalah rasa cinta kepada Allah azza wa jalla dan sikap nasihat ingin terus memberi kebaikan terhadap sesama.” Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab, 1225. Baca Juga Sikap Abu Bakar dalam Menerima Berita Isra Mikraj Keenam Peristiwa hijrah ini menunjukkan keistimewaan Ali bin Abi Thalib karena dialah yang tidur di tempat tidur Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menggantikan posisi yang sangat berbahaya, mempertaruhkan nyawa dengan satu keyakinan bahwa Allah akan menjaga dan melindunginya, dia melaksanakan segala tugas dan tanggungjawab yang dibebankan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepadanya, padahal saat itu usia Ali masih 23 tahun. Ali radhiyallahu anhu berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan janji kepadaku لاَ يُحِبُّكَ إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضُكَ إِلاَّ مُنَافِقٌ Tidak ada yang mencintai kamu, melainkan dia orang beriman dan tidak ada yang membencimu, melainkan dia itu munafik.” HR. Ahmad, 195. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sesuai syarat syaikhain. Ketujuh Pada hadits Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengunjungi Abu Bakar radhiyallahu anhu, ini menunjukkan kunjungan orang tua terhadap orang muda, jadi kunjungan itu bukan hanya dari yang muda pada yang tua saja. Abu Bakar lahir tahun 573 Masehi, sedangkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pada 571 M. Kedelapan Di antara perkataan Aisyah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam datang dan meminta izin untuk masuk rumah lalu diizinkan baginya. Berdasarkan penjelasan tersebut, kita mengambil satu adab di antara adab memasuki rumah, yaitu meminta izin untuk masuk. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saja masih meminta izin untuk masuk. Padahal beliau adalah orang istimewa dan mempunyai kedudukan seperti yang difirmankan Allah Yang Mahatinggi, النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ “Nabi itu hendaknya lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” QS. Al-Ahzab 6 Adab ketika masuk ke rumah orang Pertama Mengucapkan salam Dalam ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ 27 فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ 28 لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَاعٌ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ 29 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat. Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu “Kembali sajalah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.” QS. An-Nuur 27-29 Kedua Meminta izin itu tiga kali Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, الاسْتِئْذَانُ ثَلاثٌ ، فَإنْ أُذِنَ لَكَ وَإِلاَّ فَارْجِعْ “Meminta izin itu tiga kali. Maka, jika diizinkan, engkau boleh masuk, dan jika tidak maka kembalilah.” HR. Bukhari, no. 6245 dan Muslim, no. 2157 Ketiga Meminta izin punya maksud untuk menjaga pandangan dari yang haram Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا جُعِلَ الاسْتِئذَانُ مِنْ أجْلِ البَصَرِ “Sesungguhnya ditetapkannya meminta izin itu hanya karena masalah menjaga pandangan.” HR. Bukhari, no. 6241 dan Muslim, no. 2156 Keempat Jika diizinkan masuk, barulah masuk. Dari Rib’i bin Hirasy, ia berkata, حَدَّثَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي عَامِرٍ أنَّهُ اسْتَأذَنَ عَلَى النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ في بيتٍ ، فَقَالَ أألِج ؟ فَقَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – لِخَادِمِهِ أُخْرُجْ إِلَى هَذَا فَعَلِّمهُ الاسْتِئذَانَ ، فَقُلْ لَهُ قُلِ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ ، أأدْخُل ؟ فَسَمِعَهُ الرَّجُلُ ، فَقَالَ السَّلامُ عَلَيْكُمْ ، أَأَدْخُل ؟ فَأذِنَ لَهُ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – فدخلَ . “Seorang lelaki dari Bani Amir bercerita kepada kami bahwa ia pernah meminta izin kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau ada di rumah. Orang tersebut berkata, Apakah aku boleh masuk?’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun berkata kepada pembantunya, Keluarlah kepada orang tersebut, lalu ajarkanlah ia cara meminta izin.’ Ajarkanlah kepadanya, Ucapkanlah assalaamu alaikum, bolehkah aku masuk?’ Orang tersebut pun mendengarnya, lantas ia mengucapkan, Assalamu aaikum, bolehkah aku masuk?’ Lantas Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun mengizinkannya, setelah itu ia pun masuk.” HR. Abu Daud, no. 5177 dengan sanad shahih Kelima Cara meminta izin adalah dengan memperkenalkan nama. Dari Ummu Hani radhiyallahu anha, ia berkata, أتيتُ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ تَسْتُرُهُ ، فَقَالَ مَنْ هذِهِ ؟ فقلتُ أنا أُمُّ هَانِىءٍ “Aku datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau sedang mandi, dan Fatimah menutupinya. Maka beliau berkata, Siapakah ini?’ Aku menjawab, Ummu Hani.’ HR. Bukhari, no. 357 dan Muslim, no. 336 Dari Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata, أتَيْتُ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَدَقَقْتُ البَابَ ، فَقَالَ مَنْ هَذَا ؟ فَقُلتُ أَنَا ، فَقَالَ أنَا ، أنَا ! كَأنَّهُ كَرِهَهُ “Aku datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu mengetuk pintu. Maka beliau berkata, Siapakah ini?’ Aku menjawab, Aku.’ Beliau lantas berkata, Aku, aku.’ Seolah beliau membencinya.” HR. Bukhari, no. 6250 dan Muslim, no. 2155 Kesembilan Dalam perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, untuk tetap tinggal setelah kepergian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk menunaikan segala amanah orang Quraisy yang ada di rumah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terdapat dua hikmah Kontradiksi yang sangat ajaib dalam praktik kafir Quraisy. Mereka mengetahui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terkenal dengan Al-Amin yang terpercaya, bahkan menitipkan harta benda mereka kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika sukar menemukan orang lain yang bisa dipercaya. Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberitahukan ia utusan Allah dan mengajak mereka kepada Allah, mereka menuduh Nabi sebagai tukang sihir, pendusta, dan perkataan-perkataan yang keji lainnya. Kendati nyawa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam bahaya serta intimidasi orang kafir terhadap dirinya terus berlangsung, dia tetap tidak melupakan tanggung jawabnya terhadap sesama manusia. Hal ini menunjukkan kepada kita betapa besarnya tanggung jawab kita kepada sesama manusia. Kita tidak boleh mengabaikannya, baik yang berkaitan dengan hak-hak materi maupun non-materi, seperti mengganggu kehormatannya dan sebagainya. Hal ini adalah perkara yang banyak diabaikan oleh manusia, mereka tidak menjaga hak-hak orang lain, baik yang berkaitan dengan materi seperti harta benda dan semisalnya. Ataupan non-materi yaitu seperti ghibah menggunjing, namimah mengadu domba, mengolok-olok, menghina, mencaci, mencela, pahala ia adalah hak-hak orang yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan dalam khutbah hari penyembelihan qurban di Mina ketika Haji Wada’, فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا فِى شَهْرِكُمْ هَذَا “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian untuk mengambilnya dengan aniaya, seperti mulianya hari ini 10 Dzulhijjah, mulianya negeri ini tanah suci, mulianya bulan ini Dzulhijjah.” HR. Bukhari, no. 1739 dan Muslim, no. 1679 Kesepuluh Ketika Abu Bakar radhiyallahu anhu menawarkan unta yang dipersiapkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau lantas berkata, “Biar aku membayarnya.” Disebutkan inti dari perbuatan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersebut adalah beliau menginginkan hijrahnya tersebut sempurna dengan jiwa dan hartanya karena mengharapkan keutamaan dan kesempurnaan dalam hijrah dan jihad di jalan Allah. Barangkali juga menjadi pelajaran untuk seorang dai supaya tidak mengharapkan pemberian dari orang, harus mempunyai hati yang bersih, yang kerisauannya hanyalah untuk memperbaiki hati manusia dan memberi hidayah kepada mereka, tanpa melihat apa yang ada di tangan mereka. Kesebelas Ketika orang kafir sampai di depan gua tempat Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersembunyi. Apabila salah seorang di antara mereka melihat ke bawah kakinya pasti ia akan melihat keberadaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu anhu. Pada situasi seperti itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakar radhiyallahu anhu, مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا “Bagaimana menurutmu, wahai Abu Bakar terhadap dua orang yang ketiganya adalah Allah.” HR. Bukhari, no. 3653 dan Muslim, no. 2381 Hal ini menunjukkan kekuatan iman, keyakinan yang benar, penyerahan diri yang hakiki terhadap Allah Ta’ala, yang kita selalu perlu diingatkan, khususnya hati sebagian orang yang selalu terkait dengan dunia, lalai dari beriman kepada Allah dan tawakkal kepada-Nya. Kedua belas Perhatikan perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Bagaimana menurutmu, wahai Abu Bakar terhadap dua orang yang ketiganya adalah Allah.” HR. Bukhari, no. 3653 dan Muslim, no. 2381. Nabi ketika itu tidak berkata, “Bagaimana menurutmu, terhadap Rasul yang bersamanya adalah Allah” atau “Bagaimana menurutmu, terhadapku dan kamu yang bersama kita adalah Allah” atau ungkapan lain yang menyebutkan tentang keistimewaan Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu anhu, tetapi Nabi menyebut “Bagaimana menurutmu terhadap dua orang”, kalimat ini mencakup setiap mukmin yang yakin dengan pertolongan Allah. Ini adalah kaidah yang berlaku umum, bukan khusus pada situasi ini saja. Jadi, mencakup setiap mukmin yang yakin kepada Allah bahwa Allah bersamanya, membela, dan menolongnya. Ketiga belas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sahabatnya tinggal selama tiga hari di gua. Gua itu berarti suatu rongga sempit yang berada di sebuah gunung, gelap, kotor, seram, tempat sarang hewan-hewan berbisa dan serangga. Namun, di tempat itulah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tinggal selama tiga hari. Namun ada yang hidup di istana mewah tetapi tidak tenang dan tentram. Karena letak bahagia sejati adalah iman di hati. Para salaf mengatakan, لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ “Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.” Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ “Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” HR. Bukhari, no. 6446 dan Muslim, no. 1051 Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu anhu berkata, قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت نَعَمْ . قَالَ وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya ghoni?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya ghoni adalah kayanya hati hati yang selalu merasa cukup. Sedangkan fakir adalah fakirnya hati hati yang selalu merasa tidak puas.” HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim Keempat belas Boleh interaksi dengan orang kafir dalam hal duniawi, misalnya belajar ilmu dunia dari mereka hingga jual beli dan urusan upah. Karena dalam kisah hijrah ini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengupahi orang kafir Abdullah bin Ariqath Al-Du’ali sebagai penunjuk jalan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa bermuamalah dengan orang Yahudi, bahkan ketika beliau meninggal dunia, Aisyah radhiyallahu anha mengatakan bahwa ketika itu baju besi beliau tergadai di tempat orang Yahudi untuk membeli makanan gandum sebanyak 30 sha’. Shahih Bukhari, 31068 Imam Syafi’i dan Al-Baihaqi mengatakan bahwa orang Yahudi tersebut bernama Abusy Syahm. Fath Al-Bari, 5140 Dari hadits ini, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, وَفِي الْحَدِيث جَوَاز مُعَامَلَة الْكُفَّار فِيمَا لَمْ يَتَحَقَّقْ تَحْرِيم عَيْن الْمُتَعَامَلِ فِيهِ وَعَدَم الِاعْتِبَارِ بِفَسَادِ مُعْتَقَدِهِمْ وَمُعَامَلَاتِهِمْ فِيمَا بَيْنَهُمْ “Dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya bermuamalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya dan tidak terpengaruh akidah mereka yang rusak, juga boleh bergabung dalam muamalah antara mereka.” Fath Al-Bari, 5141 Kelima belas Ketika penduduk bumi tidak mau menolong Nabi, sementara Nabi dikeroyok oleh musuh-musuhnya dan mereka membuat makar besar untuk mencelakainya, maka Allah Ta’ala menolongnya dengan pertolongan yang ajaib. Sesungguhnya pertolongan Allah Yang Mahaesa terhadap Nabi-Nya yang telah dikepung musuh-musuhnya, makar musuhnya yang kuat, maka pembebasan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari semua itu merupakan kemenangan yang paling besar. Sebagaimana yang disebutkan Allah dalam situasi ini yang Allah mencela penduduk bumi lalu mengatakan, إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “Jikalau kamu tidak menolongnya Muhammad maka sesungguhnya Allah telah menolongnya yaitu ketika orang-orang kafir musyrikin Mekah mengeluarkannya dari Mekah sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS. At-Taubah 40 Keenam belas Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin membandingkan antara keluarnya Nabi Musa alaihis salam dari Mesir dengan keluarnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari Makkah dan balasan keduanya. Beliau mengatakan bahwa Nabi Musa alaihis salam keluar dari Mesir karena mengkhawatirkan diri dan kaumnya, begitu juga Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam khawatir diketahui musuhnya. Dan akhirnya kedua Nabi itu menang. Akan tetapi, kemenangan untuk Rasul dengan perbuatannya sendiri dan para sahabatnya, melalui tangan-tangan mereka, Allah menghukum musuh-musuhnya. Sedangkan kemenangan Musa dengan perbuatan Allah pertolongan Allah langsung. Inilah pelajaran yang harus diambil manusia, agar ia memperbaiki diri dan hatinya sampai masalahnya menjadi jelas. Ketujuh belas Imam Bukhari mengeluarkan pendapat dalam kitab shahihnya dalam Bab At-Tarikh, dari Sahl bin Sa’ad bahwa penanggalan Islam tidak dihitung dari kenabian, tidak dihitung juga dari wafatnya, namun dihitung dari permulaan hijrah dari Makkah ke Madinah, yaitu saat kedatangan beliau di Madinah. Catatan tentang kalender hijriyah Penetapan tanggal untuk tahun Hijriyah didasarkan pada ijmak kesepakatan para sahabat radhiyallahu anhum setelah bermusyawarah dengan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu, maka ini adalah hukum syari yang disepakati oleh generasi terbaik dari umat ini. Keputusan ini memiliki sandaran dari Alquran, di samping sandaran ijmak sahabat radhiyallahu anhum. Kalender Persia dan Romawi sudah diusulkan, namun para sahabat tidak menyetujui dan tidak menyukainya. Alasan mereka memilih peristiwa hijrah sebagai awal tahun hijriyah karena lewat peristiwa tersebut, Islam menjadi jaya. Kekurangan memakai kalender masehi Para sahabat membenci memakainya karena kalender tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam. Penanggalan kalender masehi tidak disandarkan pada perkara syari, juga tidak kepada kebenaran aqli logika, tidak juga pada perkara indrawi, tetapi didasarkan kepada perkara-perkara yang tidak terkait satu dan lainnya. Kalender Hijriyah sangat terkait dengan ritual ibadah seperti puasa Ramadhan, hari raya Idulfitri, hari Arafah, hari raya Iduladha, puasa tanggal sepuluh Muharram, puasa ayyamul bidh hari purnama yaitu 13, 14, 15 Hijriyah setiap bulan. Jika bulan ini tidak disebutkan, lalu akhirnya digantikan dengan kalender Masehi, maka kita pun akan kehilangan momen ibadah-ibadah agung. Semoga bermanfaat. Referensi At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Surat An-Nuur. Cetakan kedua, Tahun 1423 H. Syaikh Musthafa Al-Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Jaami’ Al-Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Baca Juga Faedah Sirah Nabi Tiba di Kota Madinah dari Hijrah Inilah Follower Sejati Kisah Salman Al-Farisi Masuk Islam Oleh Muhammad Abduh Tuasikal Artikel – 3 pertanyaan tentang perjalanan malam Isra Miraj dijelaskan oleh Syeikh Safi-ur-Rahman al-Mubarkpuri penulis buku Sirah Nabawiyah. Pada 22 Februari 2022, Syeikh Safiyurrahman menulis tentang perjalanan malam. Perjalanan Malam adalah salah satu peristiwa besar dalam kehidupan Nabi damai dan berkah besertanya. Itu terjadi selama fase sulit dari panggilan Nabi di Mekah. Jadi, itu adalah pengalaman hebat dan meneguhkan bagi Nabi, penuh berkah dan peristiwa besar. Di bawah ini, kamu dapat menemukan jawaban untuk 3 pertanyaan penting tentang perjalanan khusus ini. Baca Juga Perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad Kapan Perjalanan Malam itu terjadi? Tanggal pasti dari peristiwa besar ini masih kontroversial Beberapa ulama, termasuk Imam At-Tabari, berpendapat bahwa Perjalanan Malam terjadi pada tahun yang sama Nabi damai dan berkah besertanya menerima wahyu pertama. Imam An-Nawawi dan Al-Qurtubi lebih menyukai pendapat bahwa itu terjadi lima tahun setelah misi Nabi. Pendapat lain menetapkan 27 Rajab, 10 tahun setelah Nabi memulai misi besarnya sebagai tanggal pasti peristiwa tersebut. Namun, ulama lain mendukung tanggal mulai dari 12 hingga 16 bulan sebelum migrasi Nabi ke Madinah. Tiga pendapat pertama ditolak oleh sebagian ulama dengan alasan bahwa telah ditetapkan bahwa shalat wajib dilakukan pada malam Isra’ dan bahwa lembaga tersebut tidak terjadi selama masa hidup Khadijah, istri Nabi, yang meninggal PADA bulan Ramadhan, 10 tahun setelah Nabi memulai misi mulianya. Adapun pendapat lain, saya [Mubarakpuri] tidak menemukan bukti untuk memperkuatnya. Namun, konteks Surat Al-Israa’ menyiratkan bahwa itu diturunkan di akhir zaman selama fase Makkah. Apa yang terjadi selama Perjalanan? Para ulama hadis melaporkan rincian Malam Al-Israa’. Berikut rangkuman acara Malam itu Nabi damai dan berkah besertanya dibawa dalam tubuh dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsha di Yerusalem di sebuah gunung yang disebut Al-Buraq di perusahaan Malaikat Jibril. Di sana, Nabi Muhammad memimpin semua nabi lainnya dalam doa. Baca Juga Rajab dan Perintah Shalat dalam Peristiwa Isra&8217; Mi&8217;raj Naik ke Surga Setelah itu, Jibril membawanya ke surga. Ketika mereka mencapai surga pertama, Jibril meminta malaikat pelindung untuk membuka pintu surga pertama. Itu dibuka dan Nabi Muhammad melihat Adam Shallallahu alaihi wa sallam, nenek moyang umat manusia. Nabi memberi salam kepadanya. Adam menyambut Nabi dan menyatakan imannya pada kenabian Muhammad. Nabi melihat di sebelah kanan Adam ruh orang-orang yang akan bahagia di akhirat dan melihat ruh orang-orang yang dikutuk di sebelah kirinya. Jibril kemudian naik dengan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ke surga kedua dan meminta untuk membuka pintu gerbang. Di sana, Nabi melihat dan memberi hormat kepada Nabi Yahya Yohanes dan `Isa Yesus, shallallahu alaihi wa sallam. Mereka membalas salam, menyambutnya, dan menyatakan iman mereka pada kenabiannya. Hal yang sama terjadi di setiap surga Di surga ketiga, Nabi melihat Nabi Yusuf Joseph; dia melihat Nabi Idris Henokh di surga keempat; di kelima, Nabi Harun Harun; di keenam, Nabi Musa Musa; dan ketujuh, Nabi Ibrahim Abraham, damai dan berkah atas mereka semua. Ketika Nabi Muhammad meninggalkan Nabi Musa di surga keenam, Nabi Musa mulai menangis. Ditanya alasannya, dia menjawab bahwa meskipun Muhammad diutus setelah dia sebagai utusan, mereka yang akan masuk surga dari umat Muhammad jumlahnya lebih banyak daripada mereka yang dari umat Musa. Nabi kemudian dibawa ke Sidrat Al-Muntaha Bahasa Arab untuk “pohon bidara yang paling jauh”. Dia juga ditunjukkan Al-Bait Al-Ma`mur Bahasa Arab untuk “rumah yang sering dikunjungi” yang dihadiri setiap hari oleh malaikat; para malaikat yang menghadirinya tidak pernah meninggalkannya sampai hari kiamat. Baca Juga Hikmah Peristiwa Isra Miraj 50 Doa Dia kemudian dipresentasikan ke Hadirat Ilahi dengan jarak sedekat mungkin. Di sana, Allah Subhanahu wa taala menahbiskan 50 doa harian untuknya. Dalam perjalanan kembali, dia memberi tahu Nabi Musa bahwa para pengikutnya telah diperintahkan untuk sholat 50 kali sehari. Nabi Musa menasihatinya untuk meminta kepada Allah agar mengurangi jumlah itu karena umat Islam tidak akan tega melakukan shalat sebanyak itu. Nabi menoleh ke Jibril seolah meminta nasihatnya. Jibril mengangguk, “Ya, jika kamu mau,” dan naik bersamanya ke Allah Subhanahu wa taala. Kemudian Allah Subhanahu wa taala mengurangi 10 shalat. Nabi kemudian turun dan melaporkan hal itu kepada Musa, yang sekali lagi mendesaknya untuk meminta pengurangan lebih lanjut. Nabi sekali lagi memohon kepada Allah untuk mengurangi jumlahnya lebih jauh. Dia pergi lagi dan lagi kepada Allah SWT atas anjuran Musa hingga shalatnya dikurangi menjadi lima saja. Sekali lagi, Musa memintanya untuk memohon pengurangan lebih banyak, tetapi Nabi berkata, “Saya merasa malu berulang kali meminta Tuhan saya untuk mengurangi jumlah shalat harian. Saya menerima dan pasrah pada Kehendak-Nya.” Ketika Nabi pergi lebih jauh, seorang penelepon terdengar berkata “Aku telah memberlakukan ketetapan-Ku Allah dan meringankan beban hamba-Ku.” Baca Juga Kisah Perjalanan Isra&8217; Mi&8217;raj Rasulullah 2 Bagaimana reaksi masyarakat terhadap berita tersebut? The Night Journey menimbulkan banyak kegemparan di antara orang-orang, dan hadirin yang skeptis mengajukan berbagai macam pertanyaan kepada Muhammad. Orang-orang kafir menemukan kesempatan yang cocok untuk mengejek Muslim dan keyakinan mereka. Mereka mengganggu Nabi dengan pertanyaan tentang deskripsi Masjid di Yerusalem, di mana dia belum pernah pergi sebelumnya, dan yang membuat mereka heran, jawaban Nabi memberikan informasi yang paling akurat tentang hal itu. Namun, mereka tidak menerima apa pun dan tetap tidak percaya. Namun, bagi Muslim sejati, tidak ada yang aneh dengan Perjalanan Malam. Allah Yang Mahakuasa, Yang cukup berkuasa untuk menciptakan langit dan bumi, tentu saja cukup berkuasa untuk membawa Rasul-Nya melampaui langit dan menunjukkan kepadanya secara langsung tanda-tanda kebesaran-Nya yang tidak dapat diakses oleh orang lain. Sikap beriman ini dicontohkan oleh Abu Bakar radhiyallahu anhu yang ditantang oleh orang-orang kafir karena peristiwa ini untuk mempercayai apa yang dikatakan Nabi. Dia dengan mudah menjawab, “Ya, saya percaya itu.” Dilaporkan bahwa jawaban inilah yang membuatnya mendapatkan gelar terkenal As-Siddiq Bahasa Arab untuk “pembukti kebenaran”. Referensi Diringkas dan diadaptasi dari The Sealed Nectar milik penulis. Yesus Nabi Muhammad Yerusalem mi’raj Israa’ Perjalanan Malam Kabah Quds Masjid Al-Aqsa Kehidupan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam Tentang Safi-ur-Rahman al-Mubarkpuri Sheikh Safi-ur-Rahman al-Mubarkpuri lahir dan mengenyam pendidikan di India. Dia mengajar yurisprudensi dan Hadis di Universitas Salafi dan bekerja sebagai pemimpin redaksi majalah Muhaddith. Ia bekerja di Pusat Sunnah yang berafiliasi dengan Universitas Islam di Madinah, Arab Saudi. Dia menulis sejumlah buku, termasuk Ar-Rahiq Al-Makhtum Nectar Tertutup yang dihormati oleh Liga Muslim Dunia dengan hadiah pertama dalam kontes tentang biografi Nabi.[ind/aboutislam]

pertanyaan tentang sirah nabawiyah